Pertura

Pertura KIM Situbondo dan Tim Kominfo Situbondo.

Pembinaan

Pembinaan Dari Desa kepada Para Anggota KIM KRISANA.

Pembekalan

Pembinaan dan Pembekalan bagi Anggota KIM KRISANA dari Kominfo Situbondo.

KIM KRISANA

KIM KRISANA di Situbondo.

KIM KRISANA SIAP MEMBANGUN MASYARAKAT SITUBONDO MELLEK TIK

Sabtu, 06 April 2013

Koordinasi KIM KRISANA dan TELECENTER

       Dalam rangka mewujudkan sistem kesejahteraan sosial yang inovatif dan kompetitif, Ketua KIM KRISANA dan anggota serta Manager Telecenter Situbondo dan anggota menggelar Rapat Koordinasi Pengembangan Kualitas KIM di Situbondo. 

       Dibahas pula tentang persiapan Lomba pada Pekan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Jawa Timur di Sumenep ini, untuk meningkatkan peran dan kualitas anggota KIM ditengah masyarakat, sehingga mampu memanfaatkan dan menyebar luaskan informasi, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.

       Selain itu untuk menggelorakan dan menggalakkan masyarakat dalam rangka meningkatkan ekonomi pedesaan. Oleh karenanya dalam pelaksanaan Pekan KIM, nantinya tidak hanya dilakukan Lomba Cerdik Cermat (LCC), akan tetapi diwarnai dengan pameran KIM seJawa timur, dan akan diadakan Sarasehan bersama seluruh anggota KIM, dan Workshop terkait demo Tekhnologi Informasi, demo kelayanan informasi dan konsultasi tentang IT, lomba pertunjukan rakyat dan blog 
 
       Hadir dalam acara tersebut Ketua KIM KRISANA dan 2 orang anggota, Manager Telecenter dan didampingi oleh Pembina KIM di Kantor Kominfo Kabupaten Situbondo. Tujuan rapat Koordinasi tersebut membahas tentang persiapan blog yang nantinya akan dilombakan pada Pekan KIM tahun 2013 di Kabupaten Sumenep. 

       Melalui Rapat Koordinasi ini, diharapkan kinerja untuk mewujudkan koordinasi dan sinkronisasi antara KIM KRISANA dan TELECENTER Kabupaten Situbondo bisa terjalin dan dapat mensukseskan Lomba blog pada Pekan KIM Jawa Timur nanti. Dengan demikian nantinya akan mendapatkan hasil yang maksimal guna membawa amanat KIM KRISANA dan Kabupaten Situbondo.

Kamis, 04 April 2013

SITUBONDO PECAHKAN REKOR MURI KE -3 : SUNATAN MASSAL

Pemerintah Kabupaten Situbondo menggelar sutan massal Rabu 27 Maret 2013. Sunatan yang melibatkan 3.167 anak itu pun masuk dalam catatan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori jumlah terbanyak sunatan massal.
Untuk kali ke tiga Kabupaten Situbondo tercatat di MURI, Pertama adalah rekor makan tajin atau bubur palappa dengan peserta terbanyak, yakni 4.060 orang dan kedua adalah pelayanan KB laki-laki (MOP) terbanyak, yakni 340 akseptor.
Manajer Senior MURI Paulus Pangka menjelaskan bahwa rekor dari sunatan massal ini merupakan rekor yang ke- 5.880 dari MURI. Sebelumnya, MURI mencatat sunatan massal yang dilakukan di Kabupaten Wonosobo pada 20 Juli 2006 dengan jumlah 2.637 anak. Situbondo jauh melebihi target 10 % dari rekor sebelumnya.
Sementara Bupati Situbondo H. Dadang Wagiarto SH, mengemukakan bahwa PEMKAB menggelar kegiatan yang melibatkan 600 lebih tenaga medis rinciannya 350 tenaga bedah dan selebihnya para perawat. Banyaknya tenaga medis itu berasal dari Situbondo sendiri, serta bantuan dari Kabupaten tetangga yakni Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi.
Penghargaan Rekor Muri ke 3
Bupati Situbondo juga mengajak semua masyarakat untuk ikut peduli dengan masyarakat lainnya, termasuk dalam urusan sunat ini. Peserta sunatan massal ini adalah anak-anak yang menunda sunat karena orang tuanya tidak memiliki biaya malaksanakan sunat sendiri, Karena itu sebetulnya peserta yang hendak mengikuti sunatan massal kali ini lebih banyak dari yang ditangani. Namun karena kekurangan tenaga dan biaya, maka pihaknya menunda anak-anak itu untuk disunat di lain waktu. “program yang diselenggarakan di pendopo dan alun-alun denga kurang lebih 47 tenda tersebut, didukung oleh dana sosial perusahaan yang ada di Kabupaten Situbondo” terang Bupati Situbondo. 
Suasana sunatan itu berlangsung ramai dan riuh karena banyak anak yang belum disunat menangis karena ketakutan. Para orang tua terlihat kerepotan menangani anak-anak yang semuanya mengenakan sarung, baju koko dn kopiah putih tersebut.
Sumber : http://www.situbondokab.go.id

Kreatifitas Kerajinan Tangan Dari Eceng Gondok

          Eceng gondok (Eichhornia Crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe.

          Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.

        Akhir-akhir ini perkembangan tumbuhan air enceng gondok di perairan sungai, danau, hingga ke perairan payau sangat pesat. Sekilas tanaman enceng gondok tidak berguna. Bagi masyarakat di sekitar pinggiran sungai, enceng gondok adalah tanaman parasit yang hanya mengotori sungai dan dapat menyebabkan sungai menjadi tersumbat atau meluap karena enceng gondok terlalu banyak.

        Begitu pula bagi para masyakat disekitar pinggiran danau yang menganggap enceng gondok yang banyak didanau adalah penggau yang menghalangi aktivitas mereka di danau tersebut. Kenyataan ini yang bisa menjadikan eceng gondok dianggap sebagai tanaman penggangu, tetapi bila kita jeli mencari peluang, maka tanaman eceng gondok sangat bermanfaat untuk memberikan peluang usaha sebagai bahan dasar kerajinan (handy craft).

          Seiring dengan perkembangan iptek, bagian tumbuhan eceng gondok setelah dikeringkan ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tas wanita yang cantik, kopor, sendal, keranjang (tempat pakaian bekas), tatakan gelas, tikar, nampan dan sebagainya. Malah belakangan ini banyak dimanfaatkan untuk mendukung industri mebel den furniture, sebagai pengganti rotan yang harganya semakin melangit. Hingga saat ini sudah banyak daerah yang mampu mengembangkan kerajinan eceng gondok yang mempesona untuk pembuatan barang-barang kerajinan, mebel den furniture. Antara lain di Purbalingga, Dl Yogyakarta, sekitar Kota Solo, Cirebon, Lampung, Surabaya dan Bali. Bahkan sebagian barang-barang kerajinan eceng gondok dengan model dan kualitas tertentu, banyak diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat yang semakin gandrung dengan barang-barang produksi dari bahan-bahan alami.

         Di Kecamatan Arjasa juga banyak tanaman liar eceng gondok yang menyebar dibeberapa pertanian. Dengan adanya hal ini, banyak petani yang mengeluh dengan adanya tumbuhan eceng gondok liar yang tumbuh dengan sendirinya dilahan pertanian mereka. Tanaman eceng gondok juga bisa di buat berbagai kerajinan tangan karena seratnya yang lumayan cukup kuat jadi bisa dibuat berbagai aneka kerajinan tangan yang pasti eceng gondoknya harus di keringkan dulu agar mudah di bentuk berikut proses pembuatannya:

Pengumpulan Enceng Gondok Eceng gondok hidup di sepanjang sungai.
Pengumpulan eceng gondok ini menjadi tantangan bagi pengrajin dalam rangka pembuatan tas dan aksesori lainnya. Biasanya pengrajin bisa meminta tolong kepada masyarakat di tepi sungai untuk mengumpulkan eceng gondok dan diberikan imbalan yang sesuai. Pengumpulan eceng gondok ini sebenarnya menjadi pekerjaan mulia karena bisa membersihkan sungai sekaligus mencegah banjir yang mungkin datang karena akibat yang kontra produktif tanaman eceng gondok ini.

• Pencucian Enceng Gondok Setelah eceng gondok terkumpul dalam jumlah yang besar, maka langkah selanjutnya adalah mencucinya agar bersih dan menghilangkan bau tak sedap. 
Cara mencuci eceng gondok ini cukup disemprot dengan air bersih dan dirontokkan kotorannya dengan cara dibanting-banting. Pencucian bisa dilakukan di lokasi pengumpulan enceng gondok agar tidak mengotori angkutan yang akan membawanya ke tempat produksi tas.

• Pemisahan Enceng Gondok Dari Tangkai Setelah sampai di lokasi pengrajin, eceng gondok mulai dipilah-pilah. 
Pemilahan antara daun dan batang ini diperlukan untuk mengklasifikasikan bahan yang akan digunakan sebagai pembuat tas atau kerajinan lainnya. Pemisahan bisa dilakukan dengan cara memotong menggunakan gunting kain yang kuat atau dengan pisau. Karena keuletan dan kerasnya enceng gondok sulit untuk dipatahkan dengan tangan biasa.

• Pengeringan Enceng Gondok Setelah dipilah-pilah, maka enceng gondok mulai dikeringkan. Apabila sedang musim kemarau maka pengeringan ini bisa berjalan dengan lancar dan waktunya cukup singkat. 
Hal ini Berbeda ketika musim hujan yang pengeringannya berjalan sangat lama dan tidak mudah.Pada beberapa industri kecil pembuatan kerajinan dari eceng gondok juga dilakukan pengeringan dengan cara diasap atau diletakkan dalam ruangan pengering. Tetapi cara ini tetap kurang efektif dan kurang disukai karena kualitas eceng gondok akan menurun dibanding dengan proses pengeringan alami.

• Penganyaman Eceng Gondok Eceng gondok yang berupa daun biasanya dikeringkan begitu saja sampai benar-benar hilang kadar airnya.
Sedangkan eceng gondok yang berupa batang biasanya dianyam terlebih dahulu setelah kering, sebelum digunakan sebagai bahan baku pembuatan tas, sepatu, dan aksesori lainnya. Penganyaman ini bisa berbentuk lilitan kecil ataupun anyaman sedang.

• Membuat Pola Sebelum memotong dan membentuk anyaman yang telah dibuat,
Maka terlebih dahulu pengrajin perlu membuat pola produk yang akan dihasilkan, bisa membuat pola tas ataupun sepatu dan aksesori lainnya. Pembuatan pola ini diaplikasikan pada kertas koran atau cukup digambar apabila pola nanti berfungsi untuk membentuk anyaman enceng gondok.

• Finishing Dari pola yang telah dibuat maka lembaran anyaman enceng gondok bisa digunting sesuai pola tersebut. 
Untuk pola yang berbentuk aksesori lilit bisa langsung dilihat dan diaplikasikan dalam anyaman yang tengah dilakukan. Setelah produk sudah terbentuk, maka selanjutnya kita bisa mewarna atau melakukan finishing. Beberapa cara melakukan finishing pada Kerajinan tangan dari tanaman enceng gondok yaitu dengan mewarna produk dengan cat minyak atau pernis. Tas atau sepatu dari enceng gondok bisa dibiarkan sesuai serat yang dihasilkannya atau bisa juga dilukis dengan berbagai macam corak. Demikian proses pembuatan kerajinan tangan, menggunakan bahan tanaman liar eceng gondok semoga menambah pengetahuan anda.

Selasa, 02 April 2013

Bantuan Sosial (Bansos) Warung Informasi Masyarakat ( W I M ) Oleh KIM KRISANA


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi begitu cepat, perlu diantisipasi melalui adanya suatu wadah informasi yang cepat dan akurat juga. Bangsa yang mampu mandiri dan bersinergi pada era global adalah bangsa yang memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing untuk dapat berkiprah di dunia yang serba cepat. Salah satu upaya untuk memiliki SDM yang berkualitas dapat melalui pengadaan sarana Informasi yang memadai. Salah satu sarana informasi pendukung utama adalah tersedianya WIM ( Warung Informasi Masyarakat ) di desa kami. Desa kami, Desa Kedungdowo Kecamatan Arjasa Kabupaten Situbondo Provinsi Jawa Timur, terdisi dari 4 dusun ( Dusun Krajan: 777 jiwa, Dusun Bukkol Manis: 870 jiwa, Dusun Bengko Sabe: 888 jiwa, Dusun Timur Curah: 774 jiwa) dengan jumlah penduduk 3.309 jiwa atau 1.180 Kepala Keluarga ( KK ).Luas dari Desa Kedungdowo adalah 49.468 Ha, tinggi: 0-1000 m, Suhu rata – rata: 28,5¬0 C - 300 C, Curah Hujan: 67,05 mm/tahun, koordinat: 1130. 380 - 1140. 420 BT dan 70. 350 - 70. 440 LS. Mata pencaharian utama masyarakat disini adalah petani. Desa ini memiliki sejumlah sumberdaya alam potensial seperti Padi, Jagung, Tembakau, Polawijo. Adapun produk unggulan pertanian kecamatan ini adalah Padi dan unggulan produk lain seperti Tembakau dan Jagung. Kelompok Informasi Masyarakat adalah suatu lembaga layanan publik yang dibentuk dan dikelola dari, oleh, dan untuk masyarakat yang berorientasi pada layanan informasi dan pemberdayaan masyarakat sesuai kebutuhannya terletak di di perkotaan / pedesaan beranggotakan 3 (tiga) sampai 30 (tiga puluh) orang dapat terdiri dari remaja, orang dewasa / tua, laki-laki atau perempuan, Pelajar atau mahasiswa, pedagang, petani atau nelayan, dll. Mengingat mata pencaharian masyarakat di desa Kedungdowo mayoritas adalah petani, maka tentu nanti akan sangat membutuhkan informasi tentang pertanian, baik harga hasil pertanian dipasaran, tata cara penanggulangan hama pada pertanian, tata cara agar hasil pertanian bisa lebih subur dan melimpah, dan informasi – informasi lain dibidang pertanian. Maka dengan adanya WIM di desa Kedungdowo, Kelompok Informasi Masyarakat ( KIM ) KRISANA Desa Kedungdowo akan lebih mudah untuk memberikan pelayanan informasi bagi masyarakat yang membutuhkan informasi tersebut. Karena tidak semua Desa memiliki Warung Informasi Masyarakat ( WIM ) khususnya KIM didaerah lain, kami dari pihak KIM KRISANA Desa Kedungdowo Kecamatan Arjasa Kabupaten Situbondo Provinsi Jawa Timur telah mengajukan proposal / usulan bantuan sosial Warung Informasi Masyarakat (WIM) tahun anggaran 2013 kepada Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal melalui dana APBN. Bantuan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi peningkatan mutu Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam di desa Kedungdowo.

Senin, 01 April 2013

Peran Media Massa


Peran Media Massa Sebagai Suatu Institusi Penting Dalam Masyarakat.
Asumsi tersebut oleh dalil: 
  1. Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang, dan jasa, menghidupkan industri lain yang terkait; media juga merupakan industri tersendiri yang memiliki peraturan dan norma – norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat dan institusi lainnya. Di lain pihak, institusi media diatur oleh masyarakat.
  2. Media Massa merupakan sumber kekuatan – alat control, manajemen, inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya.
  3. Media merupakan lokasi ( forum ) yang semakin berperan, untuk menampilkan peristiwa – peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bertaraf nasinal maupun internasional. 
  4. Media sering kali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan symbol, tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata – cara, mode, gaya hidup, dan norma – norma. 
  5. Media telah menjadi sumber dominant bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas social, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif; Media menyuguhkan nilai – nilai dan penilaian normative yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.